Geotextile dan Geosintetik Pusat Informasi dan Penjualan
Archive for March, 2011
Geogrid vs Geotextile : Apakah Tensile Strength Merupakan Hal Utama
Mar 10th
Apakah Tensile Strength Merupakah Hal Utama dalam Stabilisasi Tanah Lunak ?
Artikel ini ditulis sebagai jawaban atas pertanyaan, mengapa dalam spesifikasi Tensar TRIAX Geogrid tidak dicantumkan Tensile Strength ?
Mari perhatikan spesifikasi TRIAX TX-160 berikut :
Dalam spesifikasi tersebut tidak dicantumkan Tensile Strength ? Mengapa ? Jawaban singkatnya adalah karena seringkali Tensile Strength menjadi satu-satunya referensi untuk mendesain stabilisasi tanah dasar lunak pada struktur perkerasan. Padahal tidak demikian.
Uraian mengenai jawaban ini dijelaskan sebagai berikut :
1. Jika memang benar Tensile Strength menjadi hal yang utama dalam desain stabilisasi tanah dasar lunak maka penggunaan Geotextile Woven menjadi satu-satunya pilihan terbaik karena memiliki Tensile Strength yang cukup tinggi dan harganya lebih murah dibandingkan Geogrid Biaxial maupun TRIAX. Sebagai contoh Geotextile Woven 250 gr/m2 buatan lokal mempunyai Tensile Strength lebih dari 50 kN/m. Sedangkan Geogrid Biaxial (seperti Tensar SS30, dulu mempunyai spesifikasi yang masih menyebutkan Tensile Strength) hanya mempunyai Tensile Strength sebesar 30 kN/m2). Tetapi performa Geotextile Woven 250 gr/m2 dan Tensar SS30 ini sangatlah berbeda, perhatikan gambar berikut :
Gambar 1 Gambar 2
Stabilisasi Menggunakan Geotextile Stabilisasi Menggunakan Tensar Biaxial Geogrid
Gambar 1 dan 2, merupakan proses penggelaran 2 bahan Geosintetik yang berbeda pada daerah tanah dasar lunak (rawa).
Pada gambar 1 Stabilisasi Menggunaan Geotextile, terlihat bahwa dalam proses penggelaran saja sudah mengalami kesulitan karena Geotextile tersebut tidak dapat menopang berat badan orang yang menggelarnya. Sedangkan pada gambar 2, Stabilisasi menggunakan Tensar Biaxial Geogrid, proses penggelaran menjadi demikian mudahnya. Mengapa bisa terjadi demikian ? Padahal Tensile Strength Geotexile lebih besar daripada Tensar Geogrid Biaxial. Sebab faktor kekakuan (Stiffness) bahan lebih utama dibandingkan Tensile Strength. Cara kerja kedua bahan juga berbeda, Geotextile menggunakan mekanisme Membrane Effect (yang hanya mengandalkan Tensile Strength), sedangkan Tensar Geogrid (Biaxial maupun TRIAX) menggunakan mekanisme Interlocking (Confinement Effect).
Gambar 3 Mekanisme Cara Kerja Geotextile dan Geogrid
Metode Pemasangan Geogrid TRIAX dan Biaxial
Mar 1st
Metode/prosedur Pemasangan Geogrid TRIAX dan Biaxial
1. Pertama, persiapan tanah dasar berupa pembersihan (site clearing) dan pemadatan
Gambar 1. Site Clearing
2. Kedua, penggelaran atau penghamparan material Geogrid, dengan ketentuan overlapping sebagai berikut :
|
Konsistensi Tanah |
Nilai CBR |
Panjang Overlap |
|
Kaku / Firm |
> 2 |
1 ft = 30.48 cm |
|
Lunak / Soft Ground |
1 – 2 |
2 ft = 60.96 cm |
|
Sangat Lunak |
< 1 |
3 ft = 91.44 cm |
Karena beratnya yang ringan dan ukurannya yang tidak terlalu besar, penghamparan material Geogrid dapat dilaksanakan dengan tenaga manusia.
Gambar 2. Penghamparan Geogrid
3. Ketiga, dilakukan penarikan atau penegangan Geogrid, kemudian dilakukan pemasakan atau penjangkaran menggunakan besi tulangan dan pemasak. ini dimaksudkan agar Geogrid tidak melengkung saat ditimbun.
Gambar 3. Penjangkaran Geogrid
4. Keempat, penghamparan / penimbunan agregat di atas Geogrid. Penghamparan agregat dilaksanakan dengan cara dituangkan dan diratakan searah dengan arah penghamparan geogrid dan arah overlapping nya.
Catatan :
Ketebalan minimum agregat di atas Geogrid TRIAX adalah 15cm setelah dipadatkan.
Gambar 4. Penimbunan Agregat
5. Kelima, setelah agregat dihampar dan diratakan selajutnya dilakukan pemadatan sampai mencapai nilai kepadatan yang ditetapkan.
Gambar 5. Pemadatan
